KEARIFAN LOKAL MEWUJUDKAN KETAHANAN PANGAN
Kesadaran dan pengakuan komunitas pertanian internasional tentang nilai kearifan lokal atau pengetahuan asli setempat (indigenous knowledge) bukanlah hal baru. Kearifan lokal pertanian bersifat inovatif dan perlu diikutkan membantu mewujudkan pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan. Namun negara-negara pada umumnya masih tetap lebih terikat pada pragmatisme model-model inovasi pertanian modern.
Laman Scidev.net beberapa waktu belakangan ini menyampaikan rangkaian ulasan ilmiah maupun seruan dari sejumlah pertemuan ilmiah internasional yang menekankan perlunya masyarakat dan para pengambil keputusan segera menggali, melindungi dan memanfaatkan kearifan lokal untuk inovasi dan pembangunan pertanian. Diakui telah ada usaha di berbagai negara tetapi secara menyeluruh masih lamban dan belum memadai.
Keadaan ini telah menimbulkan kekhawatiran akan berakibat fatal bagi pertanian maupun ketahanan pangan di masa mendatang. Kerusakan atau kemerosotan sumberdaya alam akibat pertanian modern maupun pemanasan global bisa terlambat diatasi. Dan petani generasi berikutpun bisa tidak lagi mewarisi penguasaan kearifan lokal pertanian tradisional mereka.Salah satu upaya nyata untuk meningkatkan percepatan gerakan penganekaragaman konsumsi
pangan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan adalah dengan mengembalikan pola
penganekaragaman konsumsi pangan yang telah mengakar di masyarakat sebagai kearifan lokal.
Kearifan lokal sebagai sumber karbohidrat masyarakat di pedesaan yang biasa dikonsumsi
adalah jagung, ubi kayu, ubi jalar, talas, ganyong (sebek), surak, gembili (kemilik), uwi dan

perenggi. Sedangkan sebagai sumber protein, masyarakat juga telah terbiasa mengonsumsi aneka
jenis ikan, seperti belut, siput, kerang dan unggas yang berasal dari hasil budidaya maupun hasil
tangkapan di alam. Adapun untuk sumber mineral dan vitamin, didapat dari buah-buahan dan
sayuran yang tersedia di pinggiran hutan, kebun, pematang sawah, saluran irigasi maupun di
pekarangan rumah.
Dalam upaya meningkatkan produktivitas pertanian tanaman pangan, kearifan lokal ini dapat
dijadikan pendamping dari ilmu-ilmu serta teknologi modern. Karena kearifan lokal merupakan
internalisasi dari pengalaman hidup yang panjang dan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat
lokal dengan norma-norma sosialnya. Kearifan lokal ini dapat sekaligus menjadi penyaring
modernisasi yang dapat berdampak negatif bagi kehidupan sosial dan budaya masyarakat
setempat, maupun merusak alam lingkungan.
Mewujudkan ketahanaan pangan nasional melalui peningkatan produksi komoditas pangan
bukan berarti harus mengabaikan norma-norma sosial budaya, mengabaikan daya dukung dan
kelestarian alam, serta memarginalisasi eksistensi masyarakat lokal. Ketahanan pangan nasional
akan menjadi terlalu mahal ongkosnya bila harus mengabaikan ketahanan sosial budaya
masyarakat pedesaan dan menimbulkan kerusakan alam.
Kearifan lokal ini menjadi benteng yang sangat penting dalam meningkatkan peranan dunia
usaha di bidang pertanian tanaman pangan. Peran dunia usaha memproduksi komoditas pangan
memang sulit untuk dihindari, sebaliknya peranan tersebut perlu terus didorong. Sementara peran
pemerintah lebih terfokus pada regulasi dan penyediaan infrastruktur pertanian. Meski demikian,
peranan dunia usaha tetap harus sejalan dengan kearifan lokal yang telah tumbuh dan berkembang
pada kehidupan masyarakat pedesaan selama ini. Dengan begitu, ketahanan pangan nasional akan
terwujud dengan adanya diversifikasi konsumsi pangan berbasis kearifan lokal.
http://accountability.humanitarianforumindonesia.org/LinkClick.aspx?fileticket=GNVCYk54hCw%3D&tabid=648&mid=1526
blognya bagus, penulisannya juga sudah rapih.
BalasHapusinformasi ini cukup bagus dijadikan sebagai bahan penyuluhan
BalasHapusmenurut saya isi dari mbak ngesti ini cukup bagus.
BalasHapusnice kakak... ^_^
BalasHapusbermanfaat